Sekantong Harapan Bernama Kebahagiaan





Ini adalah kisahku, 
Nyata senyata sentuhan hangat mentari di pagi hari , 
Dan pelukan hangatnya di sore hari, 
Layaknya mesin waktu, 
senja membawaku lari ke masa dimana semua luka berawal,
Kemudian menari dengannya hingga miliaran detik lamanya,
Sampai tiba waktunya aku lelah menari dengannya,
Dan mencoba melupakan lantas memaafkan,

AWAL MULA

Namaku Mika, Aku pernah benci namaku teramat sangat. Pernah marah pada Tuhan kenapa aku di takdirkan memiliki nama Tomboy begitu. Namaku itu, gak ada manis-manisnya, terasa pahit, sepahit kisah hidupku. Kisah hidup, yang membuatku berkali-kali jatuh - bangun hingga aku bosan dan lelah. kisah hidup yang pernah menjerumuskan khayalku tuk’ berhenti bernafas, berkali-kali. Kisah hidup yang sempat membuatku bertahan selama bertahun-tahun yang lalu namun gaungnya kerap membuatku rapuh hingga kini. 

Semua berawal di Tahun 1999, saat usiaku 16 tahun dan masih kelas 1 SMA. Suatu pagi, di pertengahan musim panas bulan juni, hari yang cerah, langit biru , awan berarak, matahari teduh . Pagi hari yang sempurna. Tidak ada tanda kemurungan, hujanpun bahkan mengurungkan niatnya tuk’ menangis. Tapi, entah alam semesta mencoba mencemoohku dengan keceriannya di pagi hari itu atau memang aku sial saja, situasi dirumahku berbanding terbalik dengan cuaca diluar sana. 

Pagi itu, aku, ayah-ibuku dan kedua adikku sarapan bersama seperti biasanya , aku ingat, aku bahkan ada ujian hari itu, lalu tiba-tiba tanpa peringatan dan aba-aba, ayahku dengan wajah tegang dan kaku berkata, “ jadi, teteh sama aa mau ikut siapa? Ayah atau ibu?” 

DAARRRR!!! aku merasa seperti terkena samberan petir saat itu juga!! 

Aku hanya bisa berkata dalam hati, “what?!!! Apapaan ini??? Maksudnya ayah sama ibu mau cerai? On no!!! oh no!!!“

Seketika aku seperti terkena sihirnya JADIS, penyihir putih di film NARNIA, sekujur tubuhku berubah menjadi es, kaku dan kelu. Hilang semua kata dan pikiranku entah melayang kemana. Pagi itu laksana hujan badai disertai amukan kilat, tak seindah cuaca cerah di luar sana. Sungguh ironis. 

Ibuku, hanya mampu berteriak seraya berkata, “ apa-apaan ini ayaaah? A..a..ayah bercanda? Maksudnya apa iniiiiii?” sambil terus menangis tiada henti. Ayahku pergi meninggalkan meja makan dengan layu dan punggung tertunduk rapuh, meninggalkan kami di meja makan masih duduk tegang dan kaku. 

Aku bisa apa? Selain duduk mematung dengan pikiran berkecamuk tak percaya, lalu aku ingat aku ada ujian sekolah, seketika aku bangkit dan berusaha memecahkan kekakuan tubuhku dan bergegas berangkat sekolah. Saking bingung dan masih merasa tidak percaya, aku berangkat sekolah seakan kejadian tadi pagi tuh gak ada, aku bahkan gak nangis! Edan gak sih? Hatiku hancur hari itu. Hidupku berantakan sejak hari itu dan penderitaanku dimulai. 

Sejak kisah pagi yang tragis itu, hidupku tidak pernah sama lagi. Aku rasa, inilah akhir dari segala drama keluargaku selama ini. Drama keluarga? Iya, drama layaknya sinetron indosiar. Sebelum scene pagi yang naas itu, ayah-ibuku memang gemar bertengkar, hampir di setiap kesempatan. Apakah itu di setiap sebelum berangkat kerja, pergi jalan-jalan, pergi ke rumah kakek-nenekku, acara rapat orangtua murid, bahkan saat nonton TV bersama. Entah apa yang diributkan, semua pertengkaran selalu berakhir dengan teriakan, bentakan dan bantingan pintu kamar tidur. Belum termasuk piring dan gelas yang pecah. Abis semua stok barang pecah belah di rumah kalau mereka udah mulai “perang”. 

Orangtuaku emang bukan orangtua yang harmonis sejak awal pernikahan mereka. jadi sebetulnya, kalaupun mereka akhirnya bercerai juga aku ga heran. Anehnya, aku malah kadang suka berfikir mending mereka cerai aja daripada tiap hari kalo ketemu kerjaannya berantem terus gak ada endingnya. Bukan apa-apa, kalo mereka udah berantem, aku yang selalu jadi “samsak” luapan emosi mereka. tiba-tiba ngebentak-lah, trus pake acara Main cubit dan pukul, gak tanggung-tanggung, mukulnya gak cuman pake tangan doang, tapi juga aneka peralatan rumah tangga. 

Hebat bukan? Itu belum termasuk Hinaan dan cemoohan orangtua kalo aku bikin kesalahan walo itu sebetulnya masih batas wajar-wajar aja. Saking seringnya aku diperlakukan jadi “samsak”, aku jadi sering nge-khayal kalo aku tuh bukan anak kandung mereka, tapi anak pungut! Sedih gak sih gue? Ampe mikir sejauh itu? Selain itu, aku tumbuh menjadi anak yang selalu merasa kesepian, mengapa? 

MASA KECIL SI MIKA

Aku anak pertama , aku lahir di Bogor dimana keluarga besar ibuku tinggal dan sebagian kecil keluarga besar ayahku tinggal. Ibuku pegawai negeri honorer begitu juga ayahku. Mereka menikah di sana dan setahun kemudian lahirlah aku. 

Pernah aku bertanya kisah cinta ayah-ibuku dulu waktu pertama kali bertemu. Awalnya agak naas sih, menurut pengakuan ibuku, beliau menikahi ayahku bukan atas dasar cinta. Tapi pelarian, karena enin ( nenek, ibu dari ibuku ) tidak menyetujui hubungan ibuku dengan pacarnya waktu itu. 

Mengapa? Karena pacar ibuku waktu itu profesi-nya pengacara, alias pengangguran banyak acara dan hidup-nya slenge-an. Setelah dipaksa putus dengan pacarnya, ibuku ketemu obat penyembuh patah hatinya, ayahku. Mereka gak pacaran, ayahku langsung melamar ibuku dan karena patah hati dan butuh kasih sayang, diterimalah lamaran ayahku. Sebetulnya, menurut penuturan ibuku, ayahku sejak awal mau menikah banyak bohongnya. Salah satunya, Waktu mau melamar, gak datang pas hari H, menghilang tanpa kabar, malah datang 3 hari kemudian, bilangnya ortu-nya sakit. Padahal-mah enggak. Ntah kemana gerangan ayahku pergi dan menghilang. Kalo dipikir-pikir, ada kemungkinan aku ini produk hasil patah hati ibuku. Tragis ya. 

Saat usiaku 2 tahun, ibu hamil anak kedua, adik pertamaku, Yana. Tidak banyak yang ku ingat masa kecilku, kecuali hari-hari saat ke posyandu dan main sama anak tetangga, juga menggambar bola kusut sambil menemani ibuku memasak di dapur. Kurasa masa-masa batita-ku normal-normal aja. Tapi menurut cerita ibuku, pada masa itu, ayah pernah selingkuh dengan pengasuhku! Ah Entahlah. 

Karena ibuku mau melahirkan yana, aku di ungsikan ke Bandung, tinggal dengan enin & apa  dari ayahku. Karena ibuku gak sanggup kalo harus mengurus aku sekaligus bayi yana. Sejak saat itu, aku tinggal disana dan tak pernah kembali ke Bogor. Setahun kemudian, ayah – ibu –bayi yana tinggal bersamaku di rumah enin-apa Bandung. 

Ingatanku loncat ke hari – hari saat aku tumbuh di rumah enin & apa Bandung. Rumahnya kecil, memanjang sekitar 5 x 12 m², dihuni oleh kami bertiga, enin & apa dan tiga adik laki-laki ayahku. Bisa dibayangkan bagaimana sempit dan sesaknya tinggal disana? ... sesak. Rumah enin & apa juga berada di gang sempit dan kumuh, khas pemukiman kelas menengah kebawah. Kakekku pensiunan kepala sekolah dan nenekku ibu rumah tangga sejati. Sementara paman-pamanku masih sekolah SMA. 

Setiap hari biasanya aku bermain sendiri, karena tak ada kawan seumuran. Dan aku sering merasa kesepian, karena ayah-ibuku bekerja sehingga aku hanya bertemu mereka sore sekitar pukul 5 hingga malam sekitar pukul 8, itu artinya aku hanya memiliki cuddle time bersama mereka sekitar 3 jam setiap hari dan itupun gak semuanya untukku dan adikku, terkadang mereka tidur lebih awal atau pergi mengunjungi temannya. Karena hal inilah, kurasa aku tumbuh menjadi anak yang gak pede-an, selalu merasa kesepian , caper dan super sensitife. Hal ini juga berimbas pada kehidupan sosialku di sekolah. 

Selama aku sekolah SD, sekolah terdekat yang jaraknya ± 2 km dari rumah enin & apa, aku hampir tak punya teman. Tempat dudukku di sekolah adalah jajaran belakang dan duduk sendirian. Jam istirahat , aku selalu jajan sendirian dan bermain sendirian. Makan pempek sambil duduk di teras seraya memandang kawan-kawanku yang bermain bersama dengan “geng”nya. Sementara aku, melihat mereka dengan penuh iri. Aku tak bisa tiba-tiba ikut nimbrung dan minta join grup, aku ga pede. 

Akhirnya, kebanyakan waktu jam istirahatku, dihabiskan menjadi Dora The Explorer, menjelajah sekolah yang teramat luas sampai jauh ke Tk yang berada di samping sekolahku dan lapangan luas di sebelahnya lagi. Seringnya aku naik ke atas pohon flamboyan dan duduk disana menikmati belaian angin dan senyuman bunga flamboyant berwana merah oranye, sampai terdengar suara bel masuk kelas. Kurasa dari sanalah asal muasal mengapa aku sangat suka jalan-jalan sendiri dan mencintai alam, terutama pohon. 

Di luar perasaan keterasinganku tanpa kawan di sekolah dan kesepian karena ortu bekerja, hidupku selama tinggal di rumah enin & apa terasa adem-ayem. Setiap hari minggu ayah-ibu sempatkan mengajakku dan yana jalan-jalan ke alun-alun Bandung, King Palaguna dan membolehkan aku menonton acara TV kesukaanku, Friday the 13th dan Little house on the prairie di hari jum’at sampai minggu. Biasanya, sehabis nonton Little house on the prairie , sebelum tidur aku mengkhayal, kalau saja ibuku seperti Caroline Ingalls, ibu yang perhatian, penyabar dan lemah lembut, karena ibuku datar-datar aja. 

Semua yang ibuku berikan serba bertema-kan uang, masih alhamdulilah sih sebetulnya, aku dikasih boneka, sepatu baru, baju baru dan tak lupa jalan-jalan hari minggu, tapi yang aku inginkan sebetulnya komunikasi, seperti, “gimana sekolah? Belajar apa aja? Seneng gak di sekolah?” … yaaah layaknya talking heart to heart as mother and daughter - lah. Yaaah, Sedalam itulah perasaanku sebagai gadis kecil berusia 8 tahun. 

Setelah aku SD kelas 4, akhirnya kami pindah dari rumah enin & apa ke rumah baru yang dibeli ayah di ujung kota Bandung bagian timur, perumahan komplek yang jauh lebih layak lingkungannya. Tapi karena sekolahku masih di SD lama, jadi setiap hari aku berangkat sekolah bersama ayahku dan pulang naik angkot sendiri! Hebat ya. 

Padahal waktu itu usiaku masih 8 tahun dan dipaksa untuk berani naik angkot sendiri. Padahal jarak sekolah dan rumah baruku ±12 Km! naik angkot 2 kali dan jalan kaki sejauh 2 Km dari gerbang komplek sampai rumahku. Yah, thanks to Daddy yang memaksaku untuk berani di usia dini demi kelancaran urusan antar-jemput anak biar ga rempong. 

Tapi kalo aku sekarang setelah menjadi orangtua, mana berani nyuruh anakku di usia segitu naik angkot dengan jarak tempuh sejauh itu. Kalo ada yang nyulik gimana? Kalo kesasar gimana?....tapi ayahku nampaknya gak khawatir sama sekali. Hingga akhirnya tiba waktunya aku pindah ke sekolah dekat rumah baruku dan aku berhenti naik angkot sendiri. Yes!! 

Sejak kepindahan kami, aku sangat berharap hidupku di rumah baru jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun kenyataanya, hidupku jauh lebih terjerumus ke lembah kesepian dan aku mulai sering mengalami physical abuse dan mental abuse dari ayah dan ibuku. 

Ibuku, “memperjakan” aku sebagai asisten rumah tangga yang harus bangun lebih awal dari semua penghuni rumah, biasanya jam 4 pagi. Tugasku adalah beberes seisi rumah, menyapu dan ngepel lantai, siram tanaman dan menanak nasi. Jadi begitu ibuku bangun, beliau tinggal masak, mandi, sarapan dan berangkat kerja. Lalu sore hari-nya sehabis pulang ngaji, aku harus kembali melakukan rutinitas yang sama dengan pagi hari. Karena, kalo ibuku menemukan rumah dalam keadaan berantakan, aku akan dihujani rentetan caci-maki ketidakbecusanku sebagai anak perempuan diakhiri dengan cubitan dipaha atau lengan hingga berwarna biru lebam. 

Melihat anak gadisnya diperlakukan ibuku sedemikian rupa, ayahku hanya diam saja sambil mengerutkan dahi dan memilih meneruskan baca Koran atau nonton TV. Ayahku memang tidak se-galak ibuku, tapi sikap diam-nya cukup membuatku merasa terpukul, merasa tidak dilindungi dan tidak dicintai serta diabaikan. Hal ini juga berlaku jika aku melakukan kesalahan sedikit saja. 

Ayahku, terkadang juga memukulku, dengan gagang sapu atau sabuk. Karena aku tau bagaimana perangai ayah – ibuku, aku tidak pernah minta dibelikan ini dan itu, karena takut ibuku marah dan kembali mencaci dan mencubitku. Aku jadi terbiasa menahan keinginan dan kesedihan. Aku hanya bisa menangis dalam diam dan menghayal seakan aku ini anak pungut yang tak lama lagi akan bertemu dengan orangtua kandungku. 

Kesepianku juga bertambah, karena ayah-ibuku PNS sejati, maka sehari-hari praktis aku sendirian dirumah. Masih mending waktu tinggal di enin & apa sebetulnya, kesepianku kadang terobati dengan hadirnya enin, tapi di rumah baruku? Hanya ditemani adikku yana dan kucing – kucing liar yang mulai berdatangan ke rumah. Bisa dibayangkan tidak? Waktu itu usiaku 9 tahun dan adikku 7 tahun, kami ditinggal berdua di rumah dari pagi sampai sore, berangkat sekolah dan ngaji sendiri. Tidak ada terbesit secuilpun rasa khawatir orangtuaku nampaknya, karena hingga ibuku melahirkan adik bungsuku, beliau tidak pernah sekalipun memperkerjakan asisten rumah tangga. Begitu adik bungsuku lahir, ibu memperkerjakan ART dan tugas rumah tangga ku sedikit terbantu. Tapi, tugasku yang lain bertambah, mengurus adik bungsuku. Kurasa, ini sama saja. 

Sejak adik bungsuku lahir, ayah dan ibuku kerap bertengkar. Ibu lebih sering berteriak sementara ayahku menjawab teriakan ibuku dengan diam dan berlalu. Kurasa, inilah awal mereka sering bertengkar hingga kejadian pagi yang naas itu terjadi. 

Masa SMA Hingga Kuliah

Sejak kejadian naas pagi itu, ayahku kabur menginggalkan rumah. Ibuku histeris setiap hari. Berteriak, menangis dan berkali-kali mencoba bunuh diri! Setiap malam aku beralih profesi jadi satpam, jaga ibuku kalo tiba-tiba kabur bawa koper, atau tiba-tiba kaya orang kesurupan lari sekencang-kencangnya ke rel kereta api terus nyoba tabrakin diri sendiri kalo kereta api lewat ( rumahku deket rel kereta api). 

Siangnya, aku berubah jadi koki, office girl sekaligus babysitter. Adikku masih kecil, Yana masih SMP dan si bungsu Dito masih TK. Karena ibuku berubah menjadi “gak waras”, aku harus jadi satu-satunya orang “dewasa” yang agak waras. Aku gak boleh nangis karena akan buang-buang waktu. Aku harus jadi tameng ibuku kalo tetangga kepo nanyain kenapa ibuku suka teriak-teriak terus nangis, aku harus jadi google yang siap ngasih jawaban serba lengkap dan detail kalo paman dan bibiku nanya ini itu soal ayah dan ibuku. 

Sejak ayah pergi dari rumah, aku memang berhenti mendapatkan physical abuse dan mental abuse dari ayah dan ibuku, tapi aku berubah menjadi babysitter seisi rumah, Sementara aku sendiri, setiap hari merasa sedih dan hancur berantakan. Saking berantakannya, aku ga bisa nangis. Gak ada waktu dan tempat buat aku menangis. Karena apa? Karena aku anak paling tua. Mereka cerai, tapi aku yang memikul semua beban perceraian mereka. 

Satu tahun aku lalui hidupku seperti itu, hingga ahirnya aku menyerah dan jatuh. Aku mulai sering menangis tengah malam dalam keheningan usai menidurkan adik-adikku dan menemani ibuku hingga tidur. Aku mulai kesepian teramat sangat dan hampa. Aku mulai marah pada Tuhan dan mempertanyakan takdir yang harus kuterima. Ayahku tak pernah kembali, dan aku mulai lelah dengan semua peran ke-pahlawanan-ku. Aku ingin dirangkul, aku ingin menangis di bahu seseorang dan aku ingin mati saja! 

Hingga suatu waktu, akhirnya aku merasa mungkin keluarga kami akan utuh lagi, saat pamanku berinisiatif mempertemukan ibuku dan ayahku yang saat itu tinggal di rumah orangtuanya. Pertemuan keluargapun dilakukan. Aku sebagai “pengacara” ibuku tentu harus ada. Pertemuan berjalan damai tanpa pertengkaran, semua menjaga bendera putih masing-masing. 

Namun, pertemuan tiba-tiba menjadi ladang perang yang memanas, ayah-ibuku bertengkar dan mulai berteriak saling menyalahkan. Aku merasa sangat tertekan dan menangis, aku berteriak, “sudah ayaaaahh! Sudah ibuuu! Lihat akuuu! Lihat aku!!!!” seraya aku melirik ayahku, rindu aku padanya walau aku tau beliau sering berbuat kasar padaku waktu kami masih satu atap. 

Mengapa tidak? Setahun sudah aku tak jumpa ayahku, tetiba aku menangis semakin kencang dan sesugukan di depan ayahku, tapi malangnya, ayahku berubah menjadi manusia tak ber-emosi dan mengacuhkan tangisanku, akhirnya ayahku berkata, “ aku ceraikan istriku! “ dan jatuh lah talak cerai untuk ibuku. 

Aku kembali menangis histeris sampai – sampai Paman dan bibiku berusaha menenangkan Tangisku, tapi aku tak bisa. Tangisku berhenti saat tiba-tiba aku mendengar suara barang pecah dilantai dan aku merasa kepalaku teramat sakit seperti ada sesuatu yang menyerang kepalaku seketika, hingga berdarah. Tangisku berubah menjadi panik dan aku bisa mendengar suara teriakan histeris ibuku, sementara di sudut lain aku lihat ayahku bernafas tersenggal-senggal dan dibawah kaki ku aku bisa melihat pecahan asbak kaca berserakan dilantai! Ayahku, memukul kepalaku dengan asbak! 

Hari itu, aku berakhir di puskesmas. Tidak ada luka yang harus dijahit, hanya goresan kecil. Dalam waktu seminggu juga sembuh. Tapi luka di hatiku, terus terbuka dan mengangga , sulit kering dan tak kunjung sembuh. Sejak saat itu aku berubah menjadi mayat hidup. Aku mulai tak peduli dengan ibuku, pekerjaan rumah tak pernah ku kerjakan dan kutelantarkan adik-adikku. 

Aku mulai membentak setiap tentangga yang kepo dengan urusan ayah-ibuku dan aku mulai bolos sekolah. Aku mulai bergaul dengan anak nakal di sekolah dan mulai berbuat onar. Aku memberontak dan mengeluarkan semua setan dalam diriku. Aku meradang, karena aku juga ingin di dengar, suaraku ingin di dengar, tangisku ingin ditampung dan jiwaku butuh di peluk. Tapi tak seorangpun yang peduli. Semua orang selalu menanyakan bagaimana ibuku dan adik-adikku lantas menyuruhku untuk menjaga mereka, lalu bagaimana dengan aku? aku ini manusia, bukan boneka karet. Mereka tak pernah menanyakan bagaimana perasaanku, bagaimana aku menghadapi semua ini dan bagaimana aku harus bertahan. Aku berjuang sendiri melawan depresiku sendiri, sampai - sampai baygon semprot cair terlihat menggoda buatku. Pikirku, jika aku mati semua akan baik-baik saja. 

Begitulah hari-hari kujalani setahun kemudian sejak insiden hantaman asbak ayahku. 

Namun tiba waktunya, aku merasa lelah menjalani hidup layaknya mayat hidup. Berulangkali mencoba bunuh diri tapi gak jadi-jadi, antara takut dan ingin. Hingga suatu hari, kulihat adik kecilku tidur lelap, seketika aku sadar, ibuku sedang tak waras, siapa yang akan menjaga mereka? maka bangkitlah aku dari depresi dan keterpurukanku. Dan aku hijrah! 

Yaah, hijrah dalam artian yang sebenarnya, aku memutuskan untuk membenahi hidupku dan bangkit dari lumpur keterpurukan hidupku dan bertaubat. Aku memutuskan memakai jilbab dan gabung organisasi agama. Aku banyak menghadiri pengajian dan mulai melihat sisi positif dari masalahku. Tuhan sedang mengujiku, dan aku harus bersabar karenanya. Aku banyak belajar dan terus memperbaiki diri. Sedikit banyak, hijrah-nya aku waktu itu berpengaruh besar terhadap pandanganku terhadap agama hingga sekarang. 

Setahun setelah aku hijrah, ibuku akhirnya mulai bangun dari ketidakstabilan emosinya dan mulai menata hidupnya kembali. Aku bahagia. Hingga suatu hari, Kebahagianku bertambah, ketika secara tiba-tiba tanpa pesan dari burung merpati, ayahku pulang! 

Namun lagi-lagi, aku kembali masuk drama sinetron hidayah indosiar bagian kedua. Pulangnya ayahku, ternyata bukan untuk memperbaiki keluarga kami yang sudah hancur berantakan, tapi hanya untuk mengambil beberapa barang dan dokumen pribadinya. Ibuku tidak membuang sia-sia kesempatan ini, beliau bagai kerasukan arwah ntah darimana, menahan ayahku untuk tidak pergi lagi dan mengancam untuk bunuh diri dengan pisau dapur!

Ayahku gak kalah kerasukannya, dengan segala tenaga meraih pisau ditangan ibuku dan menahan ibuku, menghantam tubuh ibuku ke kasur dan mulai memukul ibuku, di wajah, menampar berkali-kali!!! Aku hanya bisa menjerit dan berteriak, “ hentikan ayaaahh! Hentikan!!!” sambil menangis dan membawa kedua adikku jauh-jauh agar tidak melihat ibunya dipukuli ayahnya dengan sadis! 

Sejak hari bahagia yang menipu itu, aku kembali meradang sambil kembali terus mempertanyakan maksud Tuhan akan semua ini. Aku masih bergaul dengan “ikhwan” dan “akhwat” teman pengajianku, agar supaya pikiran dan emosiku terkendali dan tidak kembali meradang lebih jauh. Tetapi, karena ketidaknyamananku, aku memilih mundur namun masih mempertahankan jilbabku. 

Setahun kemudian, setelah aku lulus SMA, aku masuk kuliah. Ibuku setidaknya berjuang agar aku bisa kuliah dan memiliki masa depan secara finansial lebih baik melalui pendidikan. Dan aku bersyukur karena hal itu. Walau hari-hariku masih terasa pincang dan aku merasa hidupku cacat, setidaknya kehidupan kami mulai membaik. Aku bertemu dengan sahabat baruku di perkuliahan. Awalnya kami tidak cocok, tapi lama kelamaan aku bisa merasakan bahwa, dia ditakdirkan Tuhan untuk menjadi satu-satunya sahabatku yang akan bersamaku hingga saat ini dan kami berharap sampai akhirat nanti. 

Memang, sejak SD hingga SMA, kehidupan sosial pertemananku bisa di bilang sama saja dengan waktu aku sekolah di SD. Nyaris gak punya teman. Sekalinya punya teman, aku jadi teman yang selalu cari perhatian dan berani melakukan apa saja demi teman karena takut di tinggalkan lalu merasa kesepian. Aku selalu berusaha menyenangkan teman-temanku dan tidak mengecewakan mereka. hingga akhirnya aku sering ditinggalkan karena terlalu membosankan atau aku sendiri yang menjauh karena aku mulai tidak nyaman dengan perasaanku sendiri yang banyak merasa iri dengan perhatian yang tidak adil terhadapku. 

Bisa di bilang, dalam pertemanan ber-geng, aku selalu merasa minder dan yang paling rendah derajatnya. Karena kecacatan keluarga yang kumiliki. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Lita, sahabatku di bangku kuliah. Setelah sejak usia 3 tahun selalu merasa kesepian dan berulangkali mengalami bongkar pasang grup pertemanan dan uji-coba sahabat sejak SD sampai SMA, akhirnya Tuhan mempertemukanku dengan Lita saat aku berusia 19 tahun, satu-satunya sahabat dimana aku bisa mencurahkan segala derita dan kisah tragis hidupku. 

Berbeda dengan mantan sahabat-sahabatku yang lain, Lita selalu menyemangati dan mengingatkanku untuk kembali pada Tuhan. Sungguh penantian dan proses yang panjang. 

Tahun demi tahun berlalu dan ibuku akhirnya mulai menata kembali hidupnya serta mulai mengurus kami anak-anaknya, aku akhirnya merasa hidupku akan segara membaik. Aku tak curiga sama sekali, kupikir, akhirnya ibuku mulai menerima kenyataan. Tapi ternyata, ada gajah dibalik batu, perubahan ibuku bisa terjadi karena adanya support dari teman barunya, seorang pria. Siapakah pria itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah tetangga kami sendiri yang aku tau memilki istri dan dua anak gadis!!. Aku tak suka itu. Aku tak suka hubungan mereka yang semakin mencurigakan, dan yah memang mencurigakan. Dan seperti yang kuduga, mereka ternyata sudah menikah siri di belakangku. Hatiku kembali hancur dan hidupku kembali meradang. aku tak sudi tinggal satu atap dengan ayah tiriku! najis! tapi, apa daya, aku tak punya pilihan. Dengan terpaksa aku harus hidup dengan ayah baru yang sangat aku benci. 

Mengapa tidak, selain fakta bahwa ibuku adalah istri simpanan, aku juga harus jadi tukang tagih keuangan bulanan ayahku. Masih mending kalo semuanya mudah, kadang aku harus pulang dengan tangan kosong setelah seharian menungguh ayahku di kantornya, kecewaku berlipat, masih memendam luka hati akibat insiden asbak dan kecewa gak dapet uang bulanan!

Dan kalo aku pulang dengan tangan kosong, ibu gak akan berhenti ngoceh dan menghina ayahku dengan membabi buta. Tapi setidaknya, aku bisa bertemu ayahku sebulan sekali, kalau lagi mujur dan mood ayahku lagi bener, ayah sering mentraktirku makan siang enak dan terkadang memberiku uang lebih.

Aku senang, karena dengan uang lebih itu aku bisa membeli banyak buku dan peralatan menggambar, hobi yang selalu jadi pelarian depresiku. Buku yang kubeli kebanyakan bertemakan hal yang sama dengan yang aku alami, kisah anak terlantar dan tersakiti seperti series karya Torey hayden. Sampai-sampai Lita selalu memarahiku karena aku keseringan beli buku yang hanya bisa membuat luka-ku terus basah dan sulit kering. Padahal, lewat buku seperti itu, aku bisa menemukan dukungan bahwa aku tidak sendirian dan banyak anak diluar sana yang mengalami masalah sepertiku dan bahkan lebih parah tapi mereka bisa bertahan. Aku selalu mencari jawaban dan penguatan diri agar lebih kuat Lewat buku – buku yang aku baca. 

Tahun berjalan dengan ritme yang sama, tetap menjadi asisten rumah tangga ibuku di rumah, kuliah, ketemu ayahku sebulan sekali dan kenyataan baru bahwa ibuku menjadi istri kedua dari pria tetangga kami! 

Kembali Pada Ayah


Tak kuat dengan semua itu, begitu aku lulus kuliah, aku kabur dengan kedua adikku, ke rumah ayahku. Yaaah, ayahku! Yang mana aku masih dendam, sakit hati dan terluka. Tapi aku tak punya pilihan, setelah terkena rayuan maut ayahku untuk menguliahkan ku ke jenjang S1 ( sebelumnya aku lulus D3), kuceritakan kronologis latar belakang kisah “kaburku” lalu ayahku setuju aku tinggal dengannya, daripada tersiksa dengan tatapan sinis dan omongan dibelakang para tetangga akan hubungan ibu dan ayah tiriku, lebih baik aku berlari ke pelukan ayahku dan istri baru-nya! Yah, ternyata ayahku sudah menikah lagi. Menikah siri, karena perceraian orangtuaku belum jua diajukan ke pengadilan. Karena setiap mereka bertemu, perang dunia ke-3 gak bisa di hindari. Lantas apakah hidupku lebih baik dengan ayahku? Oh gak juga bambang! 

Masalah pertama sejak aku tinggal dengan ayahku adalah, ayahku tersandung kasus korupsi atasannya, hal ini berimbas pada kandasnya impianku untuk meneruskan kuliah ke S1 bersama Lita sahabatku. Dan aku “terpaksa” mencari pekerjaan. Ayahku menyatakan permohonan minta maafnya sambil menangis, akupun luluh. Aku sayang ayahku, sekasar apapun dia dimasa lalu, dia satu-satunya ayahku dan aku teramat merindukan sosoknya. 

Karena stress dan depresi dengan semua rentetan kejadian tragis yang tak kunjung padam, aku menyerah dan kembali berontak. Aku lepas jilbabku. Dengan deraian air mata, Lita sahabatku merelakan aku melepas jilbabku sambil terus berkata suatu hari nanti aku harus kembali mengenakan Jilbab. Dia memberiku kelonggaran waktu untukku mencari jalanku dan jawaban atas semua makna di balik semua kisah tragisku. 

Dan akupun mulai bekerja di café sebagai pramusaji. Lelah luar biasa bekerja sebagai pramusaji. Berdiri menunggu kedatangan tamu, menawarkan menu, mengantarkan menu dan kembali merapihkan meja. Kakiku terasa pegal luar biasa, setiap hari. Sebulan pertama, aku menangis tiap malam karena kelelahan. Sampai akhirnya aku berkata pada diri sendiri, “kamu boleh menyerah kapan aja, tapi gak sekarang!” dan sejak itu aku mulai terbiasa kerja disana hingga 1 tahun lamanya. 

Selain mendapatkan gaji setiap bulan, aku juga mendapatkan pacar pertamaku di tempatku bekerja. Dia tampan dan rupawan, tapi di balik ketampanannya ternyata dia pria brengsek yang berhasil menipu kepolosanku dan memanfaatkan kesepian dan depresiku akibat perceraian orangtuaku. Semua aktivitas pacaran kami, aku yang menyokong kebutuhan finansialnya. Sampai-sampai setiap bulan aku selalu kehabisan uang dan tak bisa menabung sepeserpun. Tapi karena haus akan kasih sayang dan perhatian, aku anggap itu sebagai “bayaran” yang setimpal. Tapi malangnya, setelah 2 tahun pacaran, dia selingkuh dan mencampakanku. 

Tidak kuat dengan depresi patah hati, aku kabur dari rumah ayahku, meninggalkan adik bungsuku sendirian disana yang membuatku selalu merasa bersalah hingga sekarang. Aku tinggal dengan sahabat baruku, Kania, teman satu pekerjaan di café. Kami tinggal di kost-kostan ditengah ibu kota. Kost-kostan murah, sempit dan kumuh. Setelah sebulan aku tinggal di sana, depresiku sembuh. Sahabat baruku, Kania adalah sahabat keduaku setelah Lita yang banyak membantuku melalui masa suramku. Dan kami bersahabat sampai sekarang. 

Pada akhirnya, aku menemukan sedikit kebahagiaan karena aku hidup hanya untuk diriku sendiri, tanpa peduli dengan urusan rumah, perceraian orangtuaku dan adik-adikku. Akhirnya, aku bisa hidup hanya untukku sendiri. Untuk pertama kalinya, aku merasa hidupku bebas dan bahagia. lalu, aku sembuh dari patah hatiku dan satu tahun kemudian aku bertemu pacar keduaku. 

Drama terbaru dalam hidupku kembali dimulai setelah aku dan pacarku mulai banyak bertengkar setelah kami berpacaran selama dua tahun. Dia yang mulai masuk kuliah sementara aku yang kerap minta bertemu, selalu menjadi awal pertengkaran kami. Dia, pacar keduaku, tau soal masa lalu keluargaku yang suram dan menerima hal itu, tapi rupa-rupanya dia tidak kuat dengan keadaan mentalku yang sering menangis tiba-tiba dan merajuk untuk sering ketemu. Akhirnya, kami berpisah baik-baik diiringi ribuan permintaan maaf dan deraian air mata darinya, dia minta kami putus. Alasanya karena dia ingin memilih fokus kuliah ketimbang melayani emosiku yang kerap labil. Kami masih saling mencintai saat kami berpisah, hal itu yang terasa berat bagiku. Tapi aku harus menerimanya, karena kalau dipaksakan, gak akan bener. 

Kembali patah hati, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah ibuku. Yaaah, kembali ke “pusat neraka” dimana semua penderitaanku berawal. Aku pulang karena aku lelah dan aku butuh ibuku, aku rindu ibuku. Aku sedikit bahagia, karena ternyata adik bungsuku juga sudah tinggal disana cukup lama. Kabur katanya dari rumah ayah. Oh, adikku yang malang, maafkan kakakmu yang egois selama 2 tahun terakhir ini. 

Kembali ke rumah ibuku itu artinya aku kembali ke peran awalku, kembali dengan urusan rumah tangga dan bahkan bertambah tugas, menjadi Sherlock holmes bagi ayah tiri-ku. Iya, dia, ayah tiri-ku sering menghilang tanpa jejak. Aku terpaksa yang jadi tumbal mencari keberadaan beliau. Dan begitu ketemu, aku harus berhasil menyeretnya pulang. Karena kalau tidak, ibuku akan terus memaksaku kembali menyuruhnya pulang sambil berlinang air mata. Lelah aku, lelah harus kembali menjadi babysitter ibuku. Tapi tetap aku jalani. Begitulah hari-hariku kemudian berjalan. 

Sungguh tidak terasa, ternyata waktu sudah berjalan kurang lebih 20 tahun sejak ayah dan ibuku bercerai. ritmenya selalu sama. aku yang mudah rapuh, lalu mencari pelarian lewat menulis, menggambar dan bertemu Lita atau Kania. selalu begitu. 

Pada akhirnya, aku bertemu yang namanya pencerahan. 


Setelah aku kerap mengalami physical abuse dan mental abuse sedari kecil, lalu perceraian orangtuaku, pernikahan siri kedua orangtuaku dengan pasangannya masing-masing beserta skandalnya, diselingkuhin pacar dan gonta ganti pekerjaan. semua itu sungguh proses panjang, melelahkan dan menguras banyak tenaga dan emosiku. tapi, aku tak jua bertemu dengan yang namanya proses mengihklaskan apalagi menerima. pencerahan itu tak kunjung tiba. 

Hingga suatu hari, sepulang kerja aku menemukan selembaran promosi perkuliahan. aku memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah di usiaku yang sudah berada di penghujung 30-an. sangat telat memang, tapi ini upayaku untuk tetap merasa hidup dan waras. aku ingin mengejar impianku yang lain, yaitu menjadi seseorang yang bisa hidup mandiri dengan sebuah karir dan profesi. 

Adalah Arsitekur lanskap pilihanku. kujalani perkuliahan selama 2 tahun dengan biaya dari uang gaji ku. namun lama kelamaan, tuntutan tugas yang bejibun tidak bisa lagi membuatku bisa bekerja. aku memutuskan berhenti bekerja dan meminta ayah dan ibuku membiayai kuliahku, dengan memelas bantuan mereka dan bahkan memberanikan diri membuat SKTM, semua cara dan upaya kujalani agar kuliahku bisa terselesaikan. aku bahkan menjadi asisten salah satu dosenku yang mana aku banyak belajar darinya. 

Di tahun ketiga perkuliahanku, aku bertemu dengan pacar ketigaku, Ryan. pertemuan kami di luar dugaan sebetulnya. kami bertemu di dunia maya, sosmed. kami chatting ber jam-jam membahas satu hal yang kami sama-sama suka. musik. Ryan seorang pemain band juga Guru honorer di sekolah dasar. hingga akhirnya kami kopi darat dan mulai saling jatuh cinta. 

Dua bulan kami berpacaran, Ryan melamarku. aku bahagia bukan main. Ryan mengetahui bagaimana aku menjalani hidupku, permasalahanku, ketakutanku, kebutuhanku dan cita-citaku. dia berjanji akan menjagaku selamanya dan membahagiakanku. mengangkatku dari kubangan penderitaanku. sungguh momen yang tidak terlupakan. bagaimana tidak, selama 20 tahun aku berjuang sendirian dan tidak memiliki sandaran, lalu ada seseorang yang menawarkan bahunya untukku bersandar dan kedua tangannya untuk menjagaku serta hati yang hangat dan lembut untuk mencintaiku, mana bisa aku tolak. 

Pada akhirnya, inilah momen dimana aku bisa melepas masa laluku dan merelakannya berlalu. mencoba memahami, menerima dan mengikhlaskan. mencoba memaafkan walau tak pernah sekalipun aku menerima permintaan maaf. Proses yang sangat panjang dan melelahkan hingga akhirnya aku bisa hidup dengan meninggalkan kisah sedih hidupku dan hidup dengan normal. 

Dua tahun kemudian, kami menikah dan aku kembali mengenakan jilbabku. perintah pertama dari suamiku. tentu aku tidak menolak. 

Aku tau, dosaku menanggalkan jilbabku mungkin terlalu besar. namun aku yakin, pintu taubat Tuhan Maha Besar dan Maha Luas. aku kembali mendalami agama yang sudah lama kutinggalkan. aku juga tetap menulis dan menggambar. sementara pak suami tetap menjalani usahanya meraih impiannya membesarkan Band yang sudah dia rintis sejak masih dibangku SMP sembari mencari recehan menjadi guru honorer. kami bahagia. 

hingga akhirnya kami dikarunia dua anak laki-laki yang lucu, menggemaskan, cerdas dan sehat. alhamdulillah. kurasa hidupku sudah sangat sempurna. 

Namun, ternyata aku masih memiliki pe-er yang cukup besar. perang batin dengan diriku sendiri. kini aku berperang melawan trauma masa laluku masih menghantuiku hingga sekarang. Tetapi bukan perasaan sedih dan depresi yang tertinggal, tapi sikap dan perilaku-ku kini yang sedikit banyak dipengaruhi oleh trauma masa lalu. Perilaku yang mempengaruhi sikap dan caraku berkomunikasi dengan suamiku dan caraku dalam mendidik anak-anakku. suatu hal yang tidak pernah terpikirkan olehku. 

Setelah mengalami post partum depression setelah 2 kali melahirkan dan menjadi orangtua, lalu menjalani hari-hari pernikahan yang tidak mudah selama 8 tahun terakhir, aku menemui penyadaran diri, bahwa aku mengalami yang namanya Ghost parenting.

Inginku untuk menjadi orangtua terbaik yang bisa membahagiakan anak-anakku sungguh besar. namun nampaknya alam bawah sadarku sudah merekam jutaan frame perilaku kedua orangtuaku terhadapku dimasa lalu. sehingga, aku sering tidak sadar marah, membentak dan mencubit anak-anakku di waktu-waktu dimana mereka rewel luar biasa. aku menyadari hal itu, teramat sadar. sehingga, usahaku untuk meredam semua itu sangat diperlukan. aku belajar online mengenai parenting dan penyembuhan luka. aku belajar bagaimana cara mendidik anak sembari menyembuhkan luka trauma masa lalu.

Ini tidak mudah, semua trial and error. terkadang aku kuat dan bisa bertahan, terkadang aku lelah dan jengah dengan semua tips dan ilmu parenting hingga aku harus melakukan puasa dan detox sosmed beberapa hari. memiliki waktu sendirian adalah solusi yang tepat. aku bersykur suamiku banyak membantuku dan memberiku waktu Me Time minimal 1 minggu sekali, agar emosi ku kembali stabil dan aku siap kembali ke medan perang. 

Aku tau, aku bukan orangtua sempurna bagi anak-anakku. Karena aku tumbuh dengan banyak memendam rasa sedih dan amarah, juga melalui banyak serangakaian peristiwa tragis, menyedihkan dan kecewa dan rasa sepi, sekarang aku menjadi orang yang mudah murah dan sangat sensitive. Suamiku kerap menyarankan aku untuk berubah, tapi sikap sensitive dan mudah marahku bukan hal yang bisa dengan mudah “dihilangkan” layaknya menghapus kesalahan nulis pake penghapus. Tapi seperti menghapus tattoo pake laser. Prosesnya lama, menyakitkan dan masih meninggalkan bekas. 

Yah, aku menyalahkan kedua orangtuaku karena dulu kerap melakukan physical abuse dan mental abuse yang berakibat sekarang aku mengalami ghost parenting. Aku berusaha teramat keras untuk mengurangi level amarahku setiap hari dan berhenti mencubit anakku. Jadi, ketika aku marah, aku masih bentak dan teriak, tapi aku tidak mencubit mereka dan memilih mencubit diriku sendiri hingga amarahku akhirnya hilang. 

Ghost parenting adalah horror baru bagi kami yang mengalami physical abuse dan mental abuse semasa kecil, dilengkapi dengan perceraian orang tua dan pengalaman tragis lainnya. Kami adalah korban, memang demikian. Tapi kami harus meruntuhkan perasaan menjadi korban agar lingkaran setan itu berhenti di kami saja, jangan sampai anak-anak kami mengalami hal yang sama dan akhirnya mereka mengalami juga ghost parenting dan diturunkan pada anak-anaknya dan terus demikian tiada akhirnya.

Atas nama cinta pada anak-anak dan bentuk pertanggung jawaban pada Tuhan, kami, sekali lagi harus berjuang melawan trauma masa lalu. Diawali dengan memahami mengapa orangtuaku bercerai, lalu menerima perceraian mereka sebagai bagian dari takdir dan memaafkan mereka.

Prosesku kembali berjuang menghentikan ghost parenting di mulai, karena akhirnya aku sadar, orangtuaku, keduanya juga tumbuh dalam keadaan sulit dan juga sering mengalami physical abuse dan mental abuse dari orangtua mereka. sedikit “wajar” kalau mereka melakukan hal yang sama padaku, anak mereka. tapi, lingkaran setan itu harus berhenti sekarang juga. Aku memaafkan kedua orang tuaku sepenuhnya pada akhirnya, demi anak-anakku.

Biarlah, semua sesak yang menyesakkan dada dan semua rasa sedih yang mendarah daging di jiwaku terhapus lewat aliran air wudhu dan isakan air mata dalam sujud solatku, aku memang terluka, tapi aku telah memaafkan ayah – ibu, esok hari aku ingin pulang ke rumah ibuku yang kini hidup sendiri tanpa suami dan meratapi nasib kurang mujurnya dalam pernikahan seraya tak hentinya berdoa di setiap sujud tahajudnya setiap malam, mendoakan kami anak-anaknya untuk selalu sehat dan bahagia. 

Setelah menjadi orang tua, aku sadar, aku memang terluka sedemikian parahnya atas sikap mereka terhadapku di masa lalu, tapi aku juga tak luput dari semua salah yang menyakiti perasaan mereka yang aku yakin sudah mereka maafkan sebelum aku memintanya. Tidak ada orangtua tanpa cela, jadi aku sisakan ruang dihatiku untuk memaafkan dan melupakan, agar sisa ruang lain yang lebih besar bisa ku isi dengan cinta dan kasih sayang.

Bersabar dalam menghadapi ujian bukanlah bersabar dalam menahan segala emosi, tetapi bersabar untuk menahan diri untuk tidak melakukan hal yang sama atau membalas perbuatan orang yang menyakiti kita. Memang tidak mudah, maka aku pinta Tuhan memuluskan jalanku dan menguatkan niatku. Perjalananku dalam mengobati luka, pada dasarnya harus dimulai dari keyakinan bahwa, penyembuh luka itu hanya Tuhan, Allah SWT. Terbukti dengan pertemuanku dengan Lita, Kania dan suamiku. Aku ingin terus melakukan kebaikan, hingga Allah menghapus kesalahanku dan menyempurnakan keadaanku. 

Satu hal yang selalu ku ingat, Tuhan saja segitu besar lautan maafnya terhadap hamba-hambaNya, masa aku gak? 

Kini aku paham, orang tuaku, sama sepertiku, manusia biasa. Kalau dulu aku memaafkan kedua orang tuaku karena aku ingin berdamai dengan hidupku sendiri, maka sekarang aku memaafkan mereka karena aku sendiri mengalami sendiri menjadi orangtua itu bagaimana dan menjalani hidup berumah tangga itu bagaimana. Akhirnya, aku tau bagaimana rasanya berada di posisi ayah dan ibuku. 

Aku yakin, perceraian bukanlah hal yang mereka berdua inginkan. Pernikahan memang bukanlah hal yang mudah. Aku rasakan sendiri bagaimana sulitnya menjalani pernikahan. Ego adalah sumber segalanya.

Aku tidak mengatakan bahwa pernikahanku baik-baik saja, kalo pernikahan demikian sempurna tanpa masalah, itu namanya pernikahan khayalan. Aku dan suami kerap bertengkar dan adu mulut, aku sering marah dalam diam dan memendam kecewa. Tapi aku belajar, menahan ego dan menstabilkan emosiku. Tidak mudah, dan proses itu akan terus berjalan di sepanjang pernikahan.

Kadang aku bisa maklum, tapi lain hari tidak. Yang terpenting adalah, begitu aku merasa marah dan kecewa pada suamiku, aku arahkan pikiranku untuk memahami suamiku. Lalu memaafkan beliau. 

Mungkin, ayahku akhirnya menyerah pada ego nya dan ibuku juga demikian. Mereka hanya manusia biasa yang juga punya kisah masa lalu yang tragis yang akhirnya membentuk kepribadian mereka. aku berfikir, mereka memang sudah tidak cocok. Kalo pernikahan dirasa sudah tidak nyaman dan lebih sering bertengkar ketimbang ketawa bersama, untuk apa terpaksa dijalani hanya demi anak.

Yang terpenting, kalau mau bercerai, lakukanlah baik-baik. Jangan lampiaskan emosi pada anak, jangan sampai anak mengalami seperti yang aku alami. Tetap jaga nama baik pasangan demi anak-anak. Berpura-pura akurlah atau akur beneran aja di depan anak-anak. Dengan begitu, anak gak akan merasa depresi dan kesepian. Aku tau, menurunkan ego memang sulit, apalagi kalo kita selalu merasa jadi korban, tapi lakukanlah, demi anak-anak. Karena mereka tanggung jawabmu terhadap Tuhan!! 

Tapi aku selalu berharap, aku tidak mengalami apa yang orangtuaku alami. Aku sayang keluarga kecilku. Aku sayang suamiku dan kedua anakku. Aku berharap, kami bisa melewati semua ujian rumah tangga hingga akhir hayat. 

Dan aku berharap, suatu hari aku bisa menikmati indahnya senja tanpa diikuti dengan ingatan kelam dan kesedihan masa laluku. aku berharap bisa tersenyum dengan hangat sehangat pelukan sinar matahari senja. 


Ini adalah, sekantong harapanku yang bernama KEBAHAGIAAN. 



END 




15 comments:

  1. Bagussss. Kemarin ada yg nawarin aku ikut nulis cerpen antologi atau novel tp aku belum shanggup karena belum biasa bikin cerpen. Baca ini trs aku jadi kepikiran teh eka aja yg ikut itu... 😁

    ReplyDelete
  2. makasih mba iffia, boleh klo memang tulisa saya ini layak :)

    ReplyDelete
  3. Cerpennya bagus mba, harus dibukukan inu �� menjadi Mika sngtlah sulit tp sebagai pembaca ad pesan bHw menjag keutuhan rumah tangga amatlah penting

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kak ainhy. maaf ya baru bales sekarang nih komennya.
      menjaga keutuhan rumah tangga memang penting, tapi ada hikmah lain yang saya ambil, kalo rumah tangga dirasa sudah gak mungkin lagi dijalanin, berpisah adalah jalan terbaik. tapi ada syaratnya, pisah baik-baik dan tetap jaga hubungan dan nama baik masing masing, demi anak. dengan begitu anak gak akan merasa kehilangan kedua orangtuanya apalagi kehilangan cinta.
      tapi sayangnya yg begini jarang. saya baru nemu satu kasus yang begini, keluarganya kang otong koil begini. hebat lah. saya salut. mantan istri sama istri baru kerjasama klo ada apaapa sama anaknya, terus si mantan istri sama kang koil juga masih kaya temen aja. ckckckck

      Delete
  4. makasih mba ainhy, di buatkan novelnya kah? ide bagus nih kayanya, hehehe

    ReplyDelete
  5. Tulisannya bagus, Mbak... Paling sedikit dikasih subjudul kali ya biar lebih enak dibacanya, kalau boleh saran :).

    Tentang kisahnya sendiri, namanya perjalanan hidup enggak ada orang yang tahu ya. Hikmahnya pasti ada, tapi memang ketika dijalani wajar ada rasa berat dan sedih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mba niwanda, sarannya oke banget mba. aku revisi nanti ya.
      makasuh supportnya ya mba

      Delete
  6. Aku belajar nulis cerpen tapi emang ga punya bakat jadi buntu banget.
    Ayo mba ikutan nulis cerpen biar bisa di bukuin juga

    ReplyDelete
  7. iya nih mba rina, aku pengen bisa goal antologi cerpen. doakan ya, aku udah send karya kebeberapa lomba, hihihihi.... kayanya harus jadi tukang ngayal ya biar bisa bikin cerpen. ngayal mah aku jago, aku bisa bikin ide cerita, tapi gaya penulisan aku masih harus banyaaakkk belajar, belum bisa nulis sastra. itu sulit buat aku yang style nya storytelling :(

    ReplyDelete
  8. Karena hidup banyak rasa. Begitulah lika-liku yang setiap anak manusia pasti punya jalannya masing-masing. Jangan lupa bahagia☺

    ReplyDelete
  9. Saya membacanya nangis :( Peluk mbak..... Tetap semangat ya menjalani hari apalagi sudah ada dua malaikat tak bersayap yang menjadi pelita di tengah keluarga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kak anggi. peluk balik virtual nih dari aku, huhuhuhu
      di sisi lain aku bersyukur karena hal itu. dulu so sad banget sama ini kisah, tapi sekarang aku malah overload cinta dari anak dan pak suami

      Delete
  10. aku baca ini satu jam teh ngabisinnya.Pelan-pela pisan bacanya teh. Ya Allah sedih pisan.. Teteh kuat hebat kereeeen. Sungguh

    udah speechless nggak bisa ngomong banyak. Semoga teteh sekeluarga senantiasa diberikan kekuatan dan tetap sadar dalam menjalani lika liku kehidupan ini. Semoga saya juga bisa begitu. peluk teh Ekaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. dear teh ghina,
      makasih udah bersedia baca kisah ini teteh, huhuhu

      terimakasih juga do'a nya. peluk virtual jugaaaa

      salam hangat
      eka

      Delete

Adbox