Jangan sampai PEMBATASAN JARAK mematikan nilai kemanusiaan


Hari ini adalah hari ke 69 sejak pandemi covid19 merebak dengan cepat di indonesia.
Saya sempat berharap hal yang sama dengan mungkin ribuan masyarakat muslim se-indonesia begitu hawa-hawa Ramadhan mau tiba, si covid udah pergi. tapi nyata-nya, ramadhan kali ini sungguh menjadi ramadhan paling berbeda sepanjang sejarah Ramadhan di indonesia.

Tanpa dibangunin sama teriak "sahuuuur-sahuuuurr" sama anak-anak dan petugas ronda keliling, tanpa tarawih, tanpa nga-buburit , tanpa petasan dan kembang api , tanpa takbir keliling, tanpa bukber antar grup di WA, tanpa silaturahmi antar rumah/saudara dan mungkin tanpa beli baju lebaran, solat Ied dan Mudik.

Ramadhan kali ini, saya malah di kasih tugas lebih sama Allah SWT. berbakti pada ibu.
puasa hari pertama kami kedatangan tamu istimewa, ibu . beliau sakit dan ingin saya yang mengurus beliau. tentu saya senang, anak-anak juga senang.

Ibu , sering ngeluh sakit dada kiri hingga menusuk punggung sejak 2 minggu kebelakang. udah makan paracetamol, asam mefenamat, di kasih freshcare, balsem, pijit, urut..... gak ngaruh. sakitnya gak ilang-ilang. jadi, besoknya saya antar ibu ke dokter langganan . kata dokter, ibu asam lambung. tapi kalo sakitnya masih ada, langsung ke dokter praktek/klinik yang ada dokter jantungnya atau internist.

Setelah 3 hari, Ternyata, sakitnya masih ada malah makin menjadi, lalu saya bawa ke dokter internist di daerah antapani, namanya Klinik Tongkonan atas saran ibu mertua karena dulu ayah mertua pernah berobat disana dan sembuh. ini menjadi perjalanan terjauhku dimasa pandemi. agak was-was dan parno, gimana kalo dijalan atau di klinik terpapar covid? tidak ada cara lain untuk menghentikan panik dan parno kecuali memberanikan diri, demi kesembuhan ibu. berbekal hand sanitizer buatan sendiri, tisu basah antiseptik, sarung tangan kain, sepatu dan kaos kaki lengkap beserta jaket dan tentu masker baru cuci.... kami berangkat pake GRAB PROTECT. agak mahal sih, tapi demi rasa aman dan nyaman berkendara, hayu ajah lah.











Klinik Tongkonan ini katanya banyak yang sembuh, kliniknya sederhana dan tempatnya kaya rumah tahun 90-an, lebih mirip tempat dokter praktek pribadi sih dibanding klinik. petugasnya cuman ada 2, ditambah dokter 1 dan petugas apotek 2 orang. Setelah sampai, langsung daftar dan di tes suhu dulu, dicatet nama+alamat dan keluhan, ditanya ada demam/batuk/pilek atau gak. lalu nunggu sekitar 30 menit baru dipanggil. dokter internist nya laki-laki, ibu agak kagok dan kurang nyaman. tapi gpp lah lanjut aja.

Begitu nama ibu dipanggil, saya langsung masuk ruangan dokter yang pintunya gak boleh ditutup dan harus jaga jarak. yo wes, gpp itu kan aturannya. dokter nanya ibu ada demam atau bapil, ibu jawab gak ada. terus di raba punggung pake stetoskop dan di suruh nafas. gak ada keluhan sesek nafas atau sakit di perut. jadi gak perlu USG abdomen. nge-ceknya sebentar banget. dokternya ngomong gak sambil duduk layaknya konsultasi dokter-pasien, tapi berdiri dengan jarak cukup jauh. 


karena dokternya pake masker dan face-shield ditambah logat bahasa sebrang yang kental dan suara yang pelan, aku gak bisa dengar apa kata dokter, apalagi ibu yang pendengarannya memang sudah berkurang karena faktor usia. jadi wajar kalo saya berjalan mendekati si dokter, tapi baru maju dua langkah, si dokter teriak dengan tegas, 

" EH!!! JANGAN MENDEKAT. CUKUP DISANA AJA!!" aduh Gusti! 

Saya mau tanya ibu kira-kira sakit apa dan kenapa, jawabannya gak jelas dan bikin bingung. akhirnya komunikasi kami banyak di selipi kata, "apa dok? gimana? " sambil saling teriak. si dokter cuman bilang, " ada kemungkinan cereda otot atau radang selaput paru. perlu di rontgen thorax dan ekg. saya kasih surat pengantar ke rumah sakit buat rontgen " terus kami di suruh cepet-cepet keluar ruangan.

Aduh gusti!!! takut sama pandemi kok gini-gini amat ya. Dokter Tongkonan kasih ibu obat penahan nyeri, antibiotik, obat maagh dan obat radang untuk 5 hari. setelah obat habis, sakitnya masih ajah ada. bingung kan kami.

Lalu , setelah gugling nyari Lab mandiri di daerah deket rumah, saya nemu Lab klinik Kimia Farma. saya bilang ke ibu kalo mendingan rontgen disana aja, mengingat kami berdua sebisa mungkin menghindari ke rumah sakit karena kami yakin semua rumah sakit fokusnya ke penanganan covid. jadi yah, was-was juga kalo pergi kesono. jadi, saya bawa ibu ke Lab kimia farma. 


Lab nya bersih, terlihat steril, tempat duduknya di kasih label jaga jarak pembatas buat duduk. yang saya suka di sana adalah petugasnya sangat ramah dan baik, dan gak keliatan ketakutan atau parno gitu nanganin customer yang mau cek Lab. semua pertanyaan dari saya dan ibu dijawab dengan tenang, sabar dan detail.

Lalu, kami memutuskan untuk konsultasi dengan dokter penyakit dalam di klinik Kimia Farma saja, mengingat adminnya baik dan ramah, dokternya juga pasti gitu. ditambah dokternya perempuan, maaf ya bukan rasis gender, tapi ini menyangkut kenyamanan.










Hasil rontgen thorax dan ekg baru bisa diambil esok hari dan dokter penyakit dalamnya juga baru buka praktek jam 7 malam. Jadi yah, kami menunggu. Abis solat subuh saya ga tidur. Tapi beberes rumah, nyuci baju dan nyiapin buat buka puasa biar nanti berangkat semua urusan domestik udah beres.

Pak suamik bersedia ambil hasil lab sebelum belanja buat dagang pagi hari. Kalo saya yg ambil duuhh rempong anak anak pasti mau ikut. Kan ga boleh karena lagi pspb. Setelah saya liat hasil rontgen thorax, di sana ada laporan hasil analisa nya. Tertulis kesimpulannya adalah BRONKITIS. wah, kami kaget. Kami jadi berkesimpulan wajar kalo ibu kena bronkitis karena suka mandi pake air dingin sebelum solat subuh sehabis beberes rumah dan berkeringat. Juga suka tidur pake kasur tipis depan tv. Tapi, kami juga was was ibu kena covid. Karena covid menyerang saluran pernafasan kan? Kami berdua jadi parno dan stress mikirin itu.

Abis buka puasa, solat magrib terus dzikir. Berdoa minta ke Allah supaya dokternya ramah dan ga kaya yg ketakutan gitu terus mencurigai kami sebagai suspect covid. Sambil berangkat mendendap ngendap menghindari para bocah yg anteng main sama sepupunya, ibu dan saya berangkat sambil pesen babang GRAB protect di jalan.

Sebelumnya saya udah telpon apotek buat daftar ke dokter internist, jadi begitu sampai cukup bilang mau berobat dan udah daftar ibu dapet no antrian 3, alhamdulillah ga terlalu antri lah. Admin nya baik dan ramah. Ibu di tensi dulu dan timbang BB juga cek suhu dan ditanya ada demam atau bapil. Mereka tetap waspada, tapi gak kaya yg ketakutan atau terlalu jaga jarak gitu. Mereka tetap melayani dengan ramah. Abis itu, kami nunggu sekitar 30 menit sampai bu dokternya datang dan 20 menit sampai nama ibu dipanggil bu dokter.

Begitu masuk ruangan dokter, kami disambut sama senyum ramah dokter dibalik masker dan kaca matanya dan ucapan, " iya ibu, ada keluhan apa"... Lalu kami cerita bla bla gejala sakit ibu dan udah berobat kemana aja sambil serahin hasil rontgen dan ekg. Lalu ibu diperiksa badan di kasur pasien. Begitu bu dokter liat di punggung ibu ada semacam bintik merah mengumpul dan kaya yg udah pecah, dengan tenang bu dokter bilang,
" ooohhh ini mah herpes bu. Tenang aja. Ga berbahaya kok bu" sontak kami berdua lega! Nuhun gusti.

Abis itu, bu dokter nyuruh saya liat bukti ibu kena herpes tanpa ragu atau nyuruh saya jaga jarak dengan beliau terus jelasin kenapa ibu bisa kena herpes dan bilang ibu harus sabar karena si herpes udah diem di syaraf dan bikin sakit tulang dan syaraf. Makanya sakitnya gak ilang ilang dan bakalan lama proses ilangnya. Bu dokter juga jelasin ngasih obat apa aja dan apa yg dipantrang.

Terus aku tanya, kenapa hasil rontgen nya bronkitis, terus bu dokter bilang gak bronkitis, itu hanya asumsi. Karena ibu ga ada demam batuk pilek atau sesak nafas.

Alhamdulillah. Kami bersyukur, sakit ibu ga se parah yg kami khawatirkan. Sekarang ibu hanya perlu banyak bersabar menahan sakit.

Jadi, apa hubungannya semua ini ?

Di masa pandemi Covid19 ini, memang perlu selalu waspada dan hati-hati dalam berinteraksi. Jarak jarak dan pembatasan juga perlu, tapi jangan sampai hal itu juga membatasi nilai kemanusiaan dan mencurigai semua orang sebagai suspect. 

Yang jahat itu menurutku bukan virus corona, tapi nilai kemanusiaan yang diinjak - injak, keserakahan dan keegoisan kita para manusia. saya jadi berfikir, Mungkin Corona Ada Supaya Manusia Lebih Peduli .


Hal inilah yang jadi alasan kenapa ibu memilih berobat ke dokter di Kimia Farma. Kami ga rasis soal fasilitas klinik ya. Tapi, pelayanan yang ramah dan penjelasan yang detail lah yang bikin kami nyaman berobat disana, karena soal harga mah sama aja. Sama mahal nya kok. Hehehe

Hal ini juga berlaku untuk setiap aspek komunikasi di setiap kegiatan yg kita lakukan, semisal belanja ke warung. Jaga jarak perlu tapi mati nilai kemanusiaan jangan atuh lah. Selalu pakai masker, cuci tangan abis dari luar, ganti semua baju abis berangkat jauh dan selalu sedia hand sanitzer di ikuti doa terus, adalah solusi mengatasi rasa takut dan parno.

Akhirnya, saya bisa mengatasi parno saya sendiri karena pandemi ini.

4 comments:

  1. Masya Allah, perjuangan yang luar biasa. Semoga buat perawat yang diklinik diberi kesehatan dan kesadaran akan kemanusiaan :D
    Syafakillah buat ibunya ya mba :)

    ReplyDelete
  2. Covid-19 memang bikin parno, teh. Soalnya belum ada obatnya. Tapi seharusnya gak usah takut berlebihan juga, sih. Cukup waspada aja. Soalnya terlalu takut berlebihan bisa membuat orang lain merasa gak nyaman dan bisa-bisa malah buat orang tersinggung.

    Moga aja pandeminya cepet berlalu ya, teh. Supaya gak ada kejadian saling curiga kyk gini lagi. Dan semoga ibu cepat sembuh ya, teh. 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin ya rabb. apalagi mau menghadapi new normal. semoga sehat selalu ya kita semua

      Delete

Adbox